HAFLAH AKHIRISSANAH AL KUBRO KE VII

Di awal bulan Juni 2024 tepatnya tanggal 6 Juni 2024, Ma’had al-jami’ah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung telah melaksanakan Haflah Akhirissanah Al-Kubro Ke-VII dengan tema Harmoni Prestasi Akademik dan Etika dalam Membentuk Mahasiswa Berintegritas yang dilaksanakan di lapangan utama UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
“ Alhamdulillah rasa Syukur saya ucapkan atas terselanggaranya haflah akhirissanah al kubro ke VII pada malam hari ini, dengan jumlah mahasantri madin 4.598 mahasantri. Madrasah diniyah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung terdiri dari 127 kelas lokal. Mahasantri Madrasah Diniyah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung telah berhasil menerbitkan satu buku hasil musyawarah dari salah satu kelas Madrasah Diniyah yaitu dari mahasantri kelas Musyawirin dengan judul buku “Nalar Fiksos atau Argumentasi Fikih Sosial”. Ujar Mudir Ma’had al-Jami’ah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Dr. Zuhri, S. Ag., M.Si., pada Kamis (06/06/2024).
“Malam ini malam yang sangat membahagiakan bagi saya dan kita semua, atas Dr. K.H Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A., yang telah hadir pada Haflah Akhirissanah al-Kubro ke-VII”. Ujar Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd. I., pada Kamis (06/06/2024).
Beliau juga menceritakan tentang sejarah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sudah direncanakan berdiri untuk berdirinya hampir berbarengan dengan tri Bhakti sekitar tahun 1996, bertemu dengan dua tokoh besar yaitu kyai Mahrus Ali dan kyai mashuri shirot dari Bojonegoro tepatnya di Padangan, beliau lah yang membuat peristiwa penting pada waktu itu, sehingga muncullah ide, “bagaimana di Tulungagung ini berdiri sebuah perguruan tinggi” Karna pada waktu itu masih jarang ada Sarjana, maka bertemu lah dengan putra dari kyai Mustaqiem, yang bernama kyai Arief Mustaqiem. Yang menjadi salah satu pendiri UIN SATU Tulungagung.
“ Di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini sudah ada Ma’had nya, yang melibatkan para mahasiswa dan Asatidz. perlu ada tirakat jika mau mendapatkan ilmu yang bermanfaat , Nabi Adam melakukan puasa untuk tirakat, yaitu puasa ayyamul bidh, baru setelah itu beliau mendapatkan kitab, tirakat orang-orang dulu itu banyak sekali, ijazah dari saya puasa 3 hari pada setiap bulan tgl 13 14 15, semuanya untuk mendapatkan hasil yg terbaik adalah dengan tirakat, mengerti dengan sejarah pendahulu salah satu mendapatkan barokah. Kalau ada seorang berguru pada grunya terus mlengos maka rusaklah hubungan syu’bah atau kebersamaannya. Harus menjaga hubungan silaturahmi terutama kepada guru, Jika cari ilmu tidak ada tirakat itu sangat sia-sia. Saya memberi Ijazah shollallah ala Muhammad 1000 kali”. Ujar Dr. K.H Reza Ahmad Zahid, Lc., M.A., pada Kamis (06/06/2024).